oleh

2019 Waspada Ancaman Bencana

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengeluarkan early warning (peringatan dini) terkait peningkatan ancaman bencana alam di tahun 2019. Ini didasarkan pada siklus alam dan data aspek geologi.

Kepala BNPB, Willem Rampangilei menjelaskan, banjir, longsor, maupun puting beliung tetap mendominasi di berbagai daerah, bahkan intensitasnya terjadi setiap bulan, pada daerah tertentu.

Begitu pula dengan ancaman gempa dan tsunami pada daerah yang berada pada pertemuan lempeng Zolesia, Hindia-Australi, maupun lempengan Pasifik.

“Bencana akan semakin meningkat, terutama dalam aspek geologi. Prediksi BNPB ada 2.500 ancaman bencana pada 2019,” terang Kepala BNPB, Willem Rampangilei, Rabu (19/12).

Untuk tsunami, lanjut dia, tidak dapat diprediksi secara pasti. Karena potensinya sangat bergantung pada besarnya gempa bumi dan rotasi.

“Ya, kalau gempa bumi lebih dari 7 SR, dengan kedalaman kurang dari 20 meter dan berada dalam jalur subduksi maka dapat berpotensi tsunami,” urainya.

Ditambahkan, sepanjang 10 tahun terakhir, jumlah bencana yang paling banyak terjadi di tahun 2017, yakni 2.862 bencana. Jumlah tersebut di tahun 2017 didominasi oleh bencana banjir, puting beliung dan gempa bumi.

“Sedangkan di tahun 2018 sedikit mengalami penurunan dengan total 2.426 bencana. Namun ada peningkatan kekeringan di beberapa wilayah,” terangnya.

Tapi secara umum, lanjut dia tren bencana meningkat. Hingga 14 Desember 2018 telah terjadi kejadian bencana 2.426. Banjir, longsor dan puting beliung masih tetap mendominasi bencana.

Khusus untuk tahun 2018, akibat dari 2.426 bencana yang terjadi menyebabkan 4.231 orang meninggal dunia dan hilang. Sementara, 6.948 orang menderita luka-luka, 9,9 juta orang mengungsi dan terdampak serta 374.023 unit rumah mengalami rusak berat maupun ringan (lihat grafis).

Disinggung soal bencana Hidrometeorologi yang akan terjadi di tahun 2019 nanti. Menurutnya, akan berjalan normal. Tidak ada El Nino maupun La Nina yang memang akhir-akhir ini menguat intensitasnya sehingga musim penghujan dan kemarau bersifat normal.

“Bencana geologi pada 2019 rata-rata 500 kejadian setiap bulannya. Tapi ini baru sebatas prediksi karena sampai saat ini belum ada teknologi yang mampu mendeteksi terjadinya gempa,” terangnya.

Menanggapi hal ini, Ketua Komisi VIII, Ali Taher Parasong mengatakan penjelasan BNPB menjadi peringatan bagi masyarakat, untuk tetap waspada.
“Indonesia negara yang kerap mengalami bencana alam karena masuk dalam ring of fire. Maka perlu adanya antisipasi sedini mungkin,” ujarnya.

BNPB maupun BMKG memiliki kewenangan untuk menyampaikan hal ini. Sosialisasi merupakan kunci agar masyarakat dapat mempersiapkan.”Dalam waktu singkat, emergency. Ini butuh kesiapan masyarakat dengan adanya sosialisi,” terang politisi PAN itu. (hrm/fin/ful)

Rekomendasi Berita