oleh

163 Nikah Muda, 1.456 Menjanda

LINGGAU POS.CO.ID– Kasus perceraian di wilayah kerja Pengadilan Agama Lubuklinggau (Lubuklinggau, Musi Rawas dan Muratara) menurun. Tahun 2018 ada 1.459. Sementara tahun 2019 turun jadi 1.456 kasus saja.

Data ini diungkapkan Kepala Pengadilan agama di Kota Lubuklinggau, H Muklis melalui Bagian Humas, Erni kepada Linggau Pos, Selasa (8/1).

Menurut Erni, dari tiga wilayah kerja Pengadilan Agama Lubuklinggau, warga yang paling banyak bercerai usia 20-40 tahun dari Kecamatan Megang Sakti dan Kecamatan Muara Megang. Penyebabnya beragam. Dominasi pertengkaran terus menerus. Ada juga yang disebabkan kendala ekonomi, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk dan judi.

Perceraian biasanya adalah keputusan akhir. Pengadilan Agama akan terlebih dahulu mencoba memediasi jika kemungkinan bisa rujuk kembali.

Ustadz Mohammad Atiq Fahmi, Lc menjelaskan, penyebab perceraian biasa terjadi pada pasangan yang tingkat kematangannya kurang, dalam hal ini keduanya wajib terus belajar untuk menjadi orang yang dewasa. Sehingga tercapai kehidupan rumah tangga yang damai dan saling mengerti satu sama lain.

Menurut Ustadz Fahmi, setiap pasangan wajib memperhatikan sikapnya apakah sudah baik pada pasangannya, apakah sudah menyenangkan hati pasangan, juga apakah benar-benar tidak melakukan sesuatu yang menyakiti?

Perceraian juga bisa dipicu sikap yang tidak terbuka artinya tidak jujur kepada pasangan. Hal ini membuat pasangan menjadi mudah berprasangka buruk atau salah paham, sehingga mudah timbul pertengkaran dan perceraian. Atasi dengan cara terbuka satu sama lain dan selalu meluangkan waktu untuk berkeluh-kesah sehingga selalu dekat dan tidak timbul prasangka.

“Ingat, suami istri harus menutupi keburukan pasangannya, jika mengumbar keburukan pasangan di hadapan orang lain tentu menyakiti hati pasangan dan timbullah pertengkaran dan perceraian. Cegah dengan cara saling menyimpan aib satu sama lain sehingga timbul perasaan saling menjaga,” pesannya.

Ia mengingatkan, bahwa tidak ada pasangan yang sempurna dan tidak ada pula rumah tangga yang pasti paling bahagia atau paling sempurna.

Maka, jalan satu-satunya untuk dapat bahagia adalah saling memahami dan menutupi kekurangan dengan kelebihan yang ada.

Lalu bagaimana mengatasinya?

Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah, bahwa setiap amalan tergantung kepada niatnya. Niat yang buruk walaupun amalan terlihat baik tentu bernilai buruk dan keliru. Tentu saja hal ini tidak bisa menjadi pahala di hadapan Allah SWT.

Niat ibadah ini sebagaimana disampaikan Rasulullah bahwa menikah adalah menggenapkan setengah dien-agama. Untuk itu, menjalankan rumah tangga tentu saja bagian dari ibadah karena di dalamnya suami istri bisa saling membangun akhlak, mengingatkan, men-support, menghasilkan keturunan, dan lain sebagainya.

Jika sudah menikah, kata dia, istri harus menjalankan perannya. Mulai dari melayani dan men-support suami, mengelola amanah dan harta suami, sebagai ibu jika sudah memiliki keturunan, dan berperan untuk mendidik anak-anak.

Pun dengan suami, harus jadi pemimpin keluarga. Memberikan nafkah dan memastikan finansial keluarga dapat terpenuhi, memberikan nafkah batin pada istrinya, menjadi pendidik bagi istri dan anak anaknya dan mengatur keluarga dengan nilai-nilai yang sudah ditetapkan sebelumnya, sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Angka Nikah Muda Naik

Meski perkara cerai turun, tapipermohonan dispensasi nikah justru meningkat. Sepanjang 2019 ada 163 pasangan minta dispensasi nikah.

Perkara dispensasi nikah yakni yang menikah di bawah umur/bawah 19 tahun baik laki-laki maupun perempuan makanya apabila di bawah umur 19 tahun maka harus mendapatkan dispensasi dari pengadilan/izin dari pengadilan kemudian KUA boleh menikahkan,

Dispensi dilakukan dengan berbagai faktor penyebab dengan hamil duluan, khawatir akan melakukan zina.

Menanggapi hal itu, Ketua MUI Kota Lubuklinggau, Dr (Hc) KH Syaiful Hadi Maafi menegaskan, tidak ada salahnya dengan menikah muda. Karena ada lima seruan yang memang diminta untuk disegerakan.

Yakni, taubat, salat, membayar hutang, menguburkan jenazah dan terakhir menikah ketika mendapat jodoh yang baik dan pas.

“Saat ini yang salah di masyarakat, usia yang menjadi patokan. Padahal untuk menikah kesalehanlah yang harus menjadi patokan. Jika kesalehan yang dipegang, mau nikah semuda apapun akan barokah dan terhindar dari perceraian. Tetapi kalau menikah tanpa berpatokan dengan kesalehan, mau usia matang juga bisa macet,” tegas Syaiful Hadi.

Itu juga dilanjutkan Syaiful Hadi, yang menyebabkan perceraian.

“Ketika setelah menikah tidak takwa, tidak saleh maka tidak akan selamat. Tetapi jika memegang teguh kesalehan, ya akan selamat,” jelasnya.(*)

Rekomendasi Berita