oleh

12 Anak Terjerat Kasus Persetubuhan

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Masih ingat dengan kasus Bambang, remaja 17 tahun yang membawa lari NB sampai empat hari. Yang berujung penangkapan terhadap Bambang karena diduga menyetubuhi NB sebanyak dua kali. Kasus ini masih mengundang keprihatinan banyak pihak.

“Sekalipun ini lebih mengarah pada kasus persetubuhan, kami tetap akan memberikan perlindungan, termasuk fasilitas terapi untuk yang bersangkutan. Kami akan jemput bola,” tutur Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Muratara, Rudi.

Sekalipun dugaan kasus ini berlatak belakang suka sama suka, namun tidak menutup kemungkinan menimbulkan rasa bersalah mendalam, terutama terjadi pada NB.

“P2TP2A perannya memfasilitasi terapi, agar bisa mengurangi traumanya. Harapan kami orang tua, harus mendukungnya dengan penuh. Jangan sampai mengucilkan, apalagi memojokkan NB,” kata Rudi.

Ia memastikan, setiap anak yang jadi korban kekerasan akan tertutup. Bahkan, bisa jadi anak akan banyak menyalahkan diri sendiri.

“Ciri-ciri trauma itu, salah satunya ketika melihat orang asing dia akan takut. Juga amat tertutup mengenai hal pribadinya. Nah, orang tua harus peka. Jangan membuka obrolan yang membuat si anak teringat pada kejadian yang dialaminya,” jelas Rudi lagi.

Terlebih ketika anak masih dalam proses menimba ilmu (pelajar,red) , akan besar rasa traumanya.

“Apalagi kalau kejadian yang dialaminya diketahui teman-teman sekolah. Jadi ini yang harus dijaga,” jelasnya lagi.

Sekalipun Kementerian PPA akan melakukan perlindungan penuh terhadap korban kekerasan seksual, menurut Rudi, mencegah adalah jalan terbaik, jangan sampai jatuh korban.

“Ya jangan berpangku tangan pada P2TP2A maupun KPAD saja. Perlindungan anak itu perlu berbasis masyarakat. Jadi masyarakat, agama, Ormas, kader posyandu, kepemudaan dan PKK ambil peran menyosialisasikan pentingnya menjaga diri dari para pedofil,” imbuhnya.

Secara terpisah, Kapolres Musi Rawas, AKBP Pambudi melalui Kasat Reskrim, AKP Wahyu Setyo Pranoto turut mengingatkan, untuk mencegah agar anak-anak tidak terlibat dalam kasus kekerasan seksual dan sebagainya, orang tua harus memberikan perhatian lebih.

Tak hanya di Kabupaten Muratara, di Kota Lubuklinggau, Kapolres Lubuklinggau AKBP Hajat Mabrur Bujangga melalui Kasat Reskrim, AKP Ali Rojikin mengatakan mengenai kasus pelecehan seksual ataupun pemerkosaan pastinya akan dilayani dan ditangani.

“Namun kembali lagi pihak korban ataupun keluarga korban harus melapor. Sebab akan dilakukan tindakan apabila melakukan laporan karena saat melakukan tindakan harus ada bukti serta saksi,” kata Ali Rojikin, Minggu (5/11).

Kasat Reskrim menjelaskan, maka dari itu apabila ada korban ataupun keluarga korban yang menjadi korban pelecehan seksual segera melapor agar bisa ditindak lanjuti.

“Pastinya mengenai hukumannya sesuai dengan kasusnya yang dialami korban yang dilakukan pelaku,” jelas pria berpangkat balok tiga ini.

Lebih lanjut ia menjelaskan, sebagai aparat penegak hukum di lingkungan kepolisian akan semaksimal mungkin menjalankan tugas tentunya dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) baik menerima laporan, tindakan hingga cukup bukti dan dilimpahkan, namun yang paling penting bisa diselesaikan dengan keluarga tapi proses hukum akan tetap berjalan.

“Saat ini besar kemungkinan akan berkurang karena saat ini sudah banyak organisasi berkaitan dengan anak, apalagi saat ini sudah ada KPAID, P2TP2A,” ucapnya.

Disinggung mengenai kasus pelecehan seksual atas dasar suka sama suka?

“Pastinya dalam agama dilarang. Sedangkan dalam ranah hukum, kembali lagi dengan adanya laporan kecuali diketahui secara langsung oleh penyidik,” singkatnya.

Sepanjang 2017 berdasarkan data yang dihimpun dari Polres Lubuklinggau, kasus pelecehan seksual atas dasar suka sama suka (persetubuhan) anak di bawah umur terjadi dalam 12 kasus. Dengan rincian, sepanjang Maret 2 kasus, Mei 4 kasus, Juni 2 kasus, Juli 1 kasus dan Agustus 3 kasus.

Melihat tingginya angka kasus tersebut, Psikolog Irwan Tony berpesan agar orang tua menjadikan kasus ini cerminan.

“Sekalipun suka sama suka, jika membawa trauma maka akan berdampak secara psikologis. Biasanya yang trauma yang wanita. Jadi nantinya akan muncul rasa rendah diri, minder, nggak percaya diri, perasaan bersalah, suka menyendiri, bahkan bisa vaginismus. Vaginismus itu kekakuan otot vagina atau alat kelamin perempuan ketika akan berhubungan karena traumanya,” terang Irwan Tony.

Ketika si korban merasa bersalah, saran Irwan Tony, jadikan ini pengalaman bahwa dalam relasi atau pacaran jangan sampai bablas.

“Karena kalau bablas yang akan rugi pasti perempuan. Isi waktu dengan hal yang bermanfaat dan positif. Sehingga bisa mengalihkan pikiran yang negatif,” sarannya lagi.

Kepada orang tua, lanjut Irwan, hal semacam ini harusnya bisa dicegah.

“Ya orang tua, saran saya harus memantau pergaulan anaknya baik secara realita maupun di dunia maya. Orang tua harus dekat dengan anak. Dengarkan Curhat-nya kalau mereka cerita. Dan pastikan orang tua punya waktu untuk mereka. Karena fase-fase remaja mereka butuh perhatian. Jangan sampai yang memberikan perhatian itu lawan jenisnya. Maka kita (orang tua,red) harus ada untuk mereka,” jelas Irwan.(16/05)

Komentar

Rekomendasi Berita