oleh

101 Orang Diserang DBD

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Sepanjang Januari–Oktober 2017, 57 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terjadi di Kota Lubuklinggau. Jumlah itu diperkirakan terus bertambah hingga pertengahan Desember 2017 ini.
Tertinggi, 21 pasien DBD ditangani Puskesmas Lubuk Tanjung, kedua Puskesmas Taba dan Swasti Waba 12 pasien, dan Puskesmas Simpang periuk tujuh pasien.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Lubuklinggau, Idris melalui Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) dr Jeannita Ari A Purba, Kamis (7/12).

Pencegahannya, kata dr Jeannita, tak bisa sebatas fogging. Sebab fogging hanya membunuh larva dan nyamuk dewasa. Usai di-fogging nyamuk Aedes Aegypti justru bermutasi dan menjadi resisten.

Yang paling bagus, sarannya, lakukan 3M menutup tempat penyimpanan air, mengubur sampah dan menguras bak mandi. Selain itu, gunakan lotions anti nyamuk serta memelihara ikan Tempalo. Setiap Puskesmas di Kota Lubuklinggau juga sudah menyediakan abate gratis. Nyamuk Aides Aegypti ini akan menjangkiti pagi hari dan petang.

Demam berdarah, kata dr Jeannita, bisa terdeteksi di laboratorium pada hari ketiga dan bisa juga pada hari kedua dengan antigen non struktural-1 dengue (NS1).

“Memang lebih murah pemeriksaan di laboratorium dibanding dengan NS1,” tuturnya.

DBD sudah masuk kategori bahaya, apabila terjadi mimisan, gusi berdarah, maupun berak berdarah.

Selain di Lubuklinggau, di Kabupaten Musi Rawas pun mulai menwanti-wanti kasus DBD. Hingga Desember 2017, kata Kadinkes Kabupate Musi Rawas, Hj Mipta Hulummi melalui Kabid P2P, Edwar Zuliyar ada 30 penderita.

Edwar sapaannya menjelaskan, 30 penderita terbagi dalam delapan Puskesmas di Kabupaten Musi Rawas terhitung dalam bulan November 2017.

Dengan rincian, 23 pasien dari Puskesmas C Nawangsasi, 1 pasien Puskesmas L Sidorejo, 1 pasien Puskesmas Magunharjo, 1 pasien Puskesmas Sumberharta, 1 pasien Puskesmas Megang Sakti,1 pasien Puskesmas Jayaloka, 1 pasien Puskesmas Ciptodadi dan 1 Puskesmas Muara Kati.

“Jadi yang paling banyak pasien DBD yakni di Puskesmas C Nawangasi berdasarkan data dari Puskesmas. Hanya saja belum masuk dengan Kejadian Luar Biasa (KLB),” jelas Edwar.

Lebih lanjut, Edwar menjelaskan, berarti ada ancaman maka dari itu pemerintah akan melakukan pemutusan rantai penularan melalui Dinkes nyamuk dewasa yang terinfeksi.

“Jadi kami kejar dan kami bunuh nyamuk-nyamuk yang terjangkit penyebaran virus DBD dengan dilakukan fogging melalui Dinkes,” ucap Edwar.

Kembali Edwar menjelaskan, Itupun sudah dilakukan pada 20 November lalu di daerah yang rawan yakni di seputaran C Nawangsasi dengan jarak 50 meter dari pasien yang terjangkit DBD. Sebab jarak terbang nyamuk tidak akan sampai lebih dari jarak 50 meter karena sifat nyamuk terbang tidak secara langsung namun hinggap.

Sedangkan untuk di daerah yang jauh dari jarak pasien DBD tidak dilakukan ataupun tanggung jawab dari Dinkes melalukan fogging.

“Namun kembali dengan Puskesmas apakah akan melakukan fogging massal, tetapi untuk racun untuk membunuh kami sediakan, hanya saja untuk biaya penyemprotan seperti minyak penyemprotan tidak ada dalam anggaran,” ucap Edwar.

Kabid P2P memaparkan, kiranya kepada masyarakat untuk antisipasi jangan sampai masyarakat terinfeksi virus DBD. Selain itu kami juga melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) ke masyarakat dengan melakukan pengurasan, mengubur dan menutup penampungan jentik nyamuk (3M).

Kemudian melakukan Pemantauan Jentik Berkala (PJB) yakni melatih pemberdayaan masyarakat jangan cuma menjadi objek maksudnya masyarakat harus bisa menjaga diri agar tidak terinfeksi.

“Salah satunya membentuk kader-kader Jumantik di setiap Puskesmas di Kabupaten Musi Rawas yang bertugas bersama warga untuk mencegah adanya DBD,” tutupnya.

Lantas bagaimana dengan kasus DBD di Kabupaten Muratara?

Kedinkes Kabupaten Muratara, dr Marhendra Putra melalui Kabid P2P Fatahul Rahman, sudah 14 kasus DBD terjadi sejak Januari hingga Desember 2017.

Jumlah tersebut menurun dibandingkan dengan tahun 2016 lalu, yakni sebanyak 29 kasus.

Dijelaskannya, dalam upaya meminimalisir penderita DBD, pihaknya dalam hal ini melalui petugas Promkes, Petugas DBD Puskesmas dan Dinkes terus melakukan sosialisasi dengan menghimbau agar masyarakat menjaga kebersihan lingkungan terutama melakukan 3M. yakni Membersihkan, Menguras dan Menimbun.

Lebih lanjut, Fatahul Rahman menjelaskan, Melalui surveilan dan petugas DBD Puskesmas bila di masyarakat terdapat banyak nyamuk dan melalui Penyelidikan Epidemiologi (PE) ditemukan jentik nyamuk Aides Aegypty, maka dilakukan penaburan abate dan bila perlu dilakukan pengasapan atau fogging. (05/07/16)

Komentar

Rekomendasi Berita