oleh

1.214 Warga Pulau Sabesi Bertahan

JAKARTA – Provinsi Banten menetapkan tanggap darurat sejalan dengan kerusakan infrastruktur yang kian masif dan korban jiwa yang terus bertambah, dampak tsunami yang menerjang kawasan pesisir Selat Sunda, Sabtu (22/12). Sementara proses evakuasi di Pulau Sabesi, Lampung terus berjalan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan terhitung Kamis (27/12) Gubernur Banten Wahidin Halim menetapkan tanggap darurat untuk wilayahnya.

Hal itu dikarenakan Serang dan Pandeglang juga telah menetapkan masa tanggap darurat. Untuk tanggap darurat di Banten sampai 9 Januari, terangnya, Jumat (28/12).

Dari data BNPB mencatat ada 426 korban meninggal akibat tsunami di Selat Sunda.

“Data ini data terbaru. Kemarin (27/12) terjadi kesalahan. Ada data ganda dengan mayat yang ditemukan di Serang dan Pandeglang, sehingga totalnya 430,” ujar Sutopo.

Sutopo juga menyinggung soal evakuasi warga Pulau Sebesi yang berjarak 19,1 km dari Gunung Anak Krakatau (GAK) di Pulau Sabesi.

“Data yang ada di pulau tersebut (Pulau Sabesi) ada 2.814 jiwa, sedangkan yang sudah diungsikan mencapai 1.600 orang,” terangnya.

Pengungsi dari Pulau Sabesi diarahkan ke Rajabasa, Kalianda, maupun Kecamatan Sumur di Pandeglang.

“Seluruhnya (pengungsi, red) sudah diantar menggunakan empat kapal,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono menambahkan, aktivitas seismik GAK saat ini memiliki kekuatan setara dengan 3 magnitudo. Episenter terletak di Gunung Anak Krakatau. Tepatnya pada koordinat 6,08 LS dan 105,41 BT di kedalaman 1 km.

“Aktivitas seismik tersebut tidak berpotensi tsunami,” jelasnya.

BMKG mencermati bahwa aktivitas seismik GAK itu merupakan gempa dangkal. Pertimbangannya adalah lokasi episenter, kedalaman hiposenter, dan bentuk gelombangnya (waveform). Aktivitas seismik gunung Anak Krakatau itu terpantau tujuh stasiun milik BMKG di sekitar selat Sunda.

“Selama proses monitoring, hasilnya disimpulkan bahwa tidak menunjukkan adanya perubahan muka air laut. Meskipun begitu kepada masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak bisa dipastikan kebenarannya,” papar Rahmat.

Nah, terkait perbaikan pada zona terdampak tsunami, Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan, akan mengirim teknisi atau peneliti untuk memetakan zonasi di kawasan pantai Serang dan Pandeglang.

“Sudah saya tinjau lokasi-lokasi itu. Kami kirim juga tim teknis dari Badan Geologi untuk studi zonasi,” kata Jonan setelah meninjau pos pengamatan GAK Badan Geologi Kementerian ESDM di Pasauran, Kecamatan Cinangka, Serang, kemarin (28/12).

Lebih lanjut Jonan menuturkan tim peneliti itu akan memetakan daerah mana saja yang aman. Dan lokasi-lokasi yang berbahaya untuk ditempati.

“Kalau tidak (aman, Red) tentu ya harus dipindah. Atau dibikin tanggul,” kata mantan menteri perhubungan itu.

Sedangkan pembangunan breakwater atau pemecah ombak biasanya digunakan untuk pelayaran.

“Bukan untuk hotel,” ungkap dia.

Sebelumnya, Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah menambahkan, pihaknya juga sudah mengirimkan surat kepada pemerintah pusat untuk pengaturan zonasi. Dia sudah membicarakan itu dengan Menteri Jonan di sela-sela kunjungan ke pos pengamatan.

Sementara dari pos pengamatan GAK itu terlihat samar penampakan Gunung Rakata. Karena, tertutup awan kelabu dan hujan. Sedangkan GAK yang berjarak sekitar 40 km dari pos itu hanya sepintas terlihat kepulan asap abu-abu kehitaman membumbung tinggi. Jonan yang mengunjungi pos tersebut sempat juga mengamati menggunakan teropong.

“Tidak terlalu kelihatan secara visual. Tapi bisa kita pantau aktivitas di sana (GAK) pakai seismograf,” ujar Jonan.

Di pos pantau yang berada di ketinggian 30 meter dari permukaan laut itu ada seismograf, sensor infrasonik untuk mencatat suara letusan, hingga pencatat arah angin untuk memetakan arah abu vulkanis.

Hasil pencatatan seismograf itu juga dibagi dua, ada yang mencatat getaran besar dan getaran yang lebih kecil. Dari hasil pencatatan amplitudonya sekitar 25 milimeter kemarin (28/12).

Sedangkan pada Kamis (27/12) sampai rata-rata 35 milimeter.

“Aktivitas vulkanis Gunung Anak Krakatau yang sekarang ini tak ada seperempat daripada September tahun ini,” ungkap Jonan.

Saat ini seismograf hanya terpasang di Pulau Sertung. Seismograf di GAK sudah tak mengirimkan data lagi sejak Sabtu (22/12). Ada rencana pemasangan alat serupa di Pulau Panjang dan Pulau Rakata yang jaraknya dengan GAK sekitar 4 km.

“Saya minta yang dipasang di kaki GAK sudah rusak berapa kali ini dipindahlah. Pinjam alat dari tempat lain,” ungkap dia.

Dia tidak yakin ada yang mencuri alat tersebut karena penggunaan alat itu sangat khusus. Begitu pula aki pada alat itu juga punya voltase berbeda. Tapi, pengamanan akan dilakukan dengan bantuan polisi dan TNI.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Rudy Suhendar menuturkan meski tersisa satu seismograf tapi cukup akurat untuk memantau kondisi seismik di GAK. Dia menuturkan sebelumnya kalibrasi alat yang ada di pulau Sertung itu bersamaan dengan yang ada di GAK.

“Akurasinya karena kemarin double (di Sertung dan GAK) artinya kalibrasi satu sama lain bisa jalan. Saya kira masih sama pasang satu atau pasang dua,” ungkap dia.

Seperti diketahui, tsunami pada Sabtu (22/12) malam itu menerjang hampir sepanjang pantai mulai Anyer di Serang hingga kecamatan Sumur dekat Taman Nasional Ujung Kulon di Pandeglang. Sedikitnya 426 orang meninggal dunia dan ratusan bangunan rusak. Mayoritas adalah villa atau hotel yang letaknya di dekat pantai.

Seperti kompleks Hotel Mutiara Carita, Villa Stephanie, hingga Tanjung Lesung Beach Hotel. Hingga kemarin, di pantai Anyer sisa puing berupa kayu dan atap dari dedaunan masih banyak berserakan di sekitar pantai yang diterjang tsunami. (fin/ful)

Rekomendasi Berita