oleh

1.057 Pasien Derita Tipes

LUBUKLINGGAU – Sepanjang Januari-Desember 2018, penderita Penyakit Tipes (Typhoid Fever) mendominasi jumlah pasien yang dirawat. Di Rumah Sakit (RS) Dr Sobirin ada 657 orang, sementara di Rumah Sakit Siti Aisyah (RSSA) 500 orang.

Tipes merupakan penyakit yang bisa menyebar melalui makanan, air, atau ditularkan dari orang yang terinfeksi (melalui fesesnya). Tipes disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi. Bakteri ini biasanya ada dalam air yang terkontaminasi dengan feses dan bisa menempel pada makanan atau minuman yang dikonsumsi.

Direktur RSSA, dr H Mast Idris Usman menjelaskan, gejala tipes mulai dari demam setinggi 40°C, sakit kepala, kehilangan nafsu makan, diare, muntah, lemah dan lesu.

Tiap pasien tipes membutuhkan perawatan yang berbeda-beda. Ada yang mungkin pernah melihat pasien tipes boleh dirawat di rumah, sementara pasien lainnya harus diinap di rumah sakit. Penanganan tipes ini tentu tergantung dari tingkat keparahan penyakit tipes. Dokter akan menilai dan mempertimbangkan perawatan apa yang tepat diberikan ke pasiennya.
Humas RSSA, Evi Andayani mengatakan, selain penyakit tipes, ada 213 pasien menderita muntaber, 109 orang Anemia lima diantaranya meninggal, dan 103 orang Hipertensi bahkan lima orang penderita meninggal. Lalu untuk pasien DBD 165 orang, tiga orang meninggal.

“Pasien yang paling banyak meninggal itu yang menderita stroke, sampai 19 orang meninggal,” jelasnya.

Sementara Direktur RS Dr Sobirin, dr Nawawi Akib melalui Rekam Medis, Sumiati mengatakan sekitar 6.000 pasien dirujuk berobat ke RS Dr Sobirin tahun 2018 ini.

“Pasien terbanyak penderita demam tifoid sampai 657 orang. Lalu, ada juga yang 506 pasien menderita diare dan gastroenteritis. Ini diawali mual, muntah, diare, kram perut, atau terkadang demam pada penderitanya. Bahkan, 360 orang menderita DBD,” jelas dia.

Sementara di Klinik Hapsari, ada 142 pasien yang ditangani.

Direktur Klinik Hapsari Medika Lubuklinggau, Bambang Rubianto, Kamis (27/12) menjelaskan, ada 44 penyakit demam febris, dan 14 penderita hipertensi yang berobat ke Klinik Hapsari.
Sementara penderita DBD hanya ada satu orang.(cw1/adi/aku/lik)

Rekomendasi Berita