oleh

Setubuhi Anak Kandung Hingga Melahirkan

LINGGAU POS ONLINE, MEGANG SAKTI – Nahas yang dialami Bunga (17) bukan nama sebenarnya, pasca ditinggal meninggal ibu kandungnya 2013 lalu. Ia jadi pelampiasan nafsu ayah kandungnya, KR (45), hingga melahirkan seorang anak perempuan, Rabu (3/10) sekitar pukul 02.00 WIB.

Imbas perbuatannya, KR warga Kecamatan Megang Sakti Kabupaten Musi Rawas (Mura) diringkus petugas Polsek Megang Sakti, Kamis (4/10). KR diringkus di Desa Rejosari Kecamatan Megang Sakti, setelah kabur dikejar massa.

Kapolres Musi Rawas, AKBP Bayu Dewantoro melalui Kapolsek Megang Sakti, Iptu M Romi menjelaskan, aksi biadab KR terhadap korban, pertama kali terjadi akhir Desember 2017.

“Di rumah mereka, hanya berisikan korban bersama dua adiknya dan tersangka,” jelas Kapolsek.

Awal persetubuhan terjadi, saat korban sedang tertidur dalam posisi miring ke kiri. Tersangka masuk ke dalam kamar dan menaiki ranjang. Sempat membelai rambut korban, setelah itu terjadilah aksi bejat sang ayah.

“Setelah itu, kejadian tak senonoh itu terjadi hingga delapan kali. Baru diketahui oleh warga saat korban mau melahirkan,” kata Iptu M Romi.

Kondisi ini membuat warga marah.

Warga hendak menghakimi pelaku, akhirnya pelaku melarikan diri ke Desa Rejosari Kecamatan Megang Sakti.

“Tersangka hampir dimassa warga. Lalu tersangka kabur ke rumah Pairun di Rejosari,” tambah Kapolsek Megang Sakti.

Baru pada Kamis (4/10) sekira pukul 02.00 WIB, Kapolsek memerintahkan Kapospol Mandala bersama Kepala Desa (Kades) dan perangkatnya, melakukan penangkapan terhadap tersangka KR.

“Warga masih marah dan emosi, karena tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh tersangka. Tapi melalui pendekatan dan dibantu oleh perangkat desa, kemarahan dan emosi masyarakat dapat diredam. Khusus korban, saat ini mengalami trauma. Selain itu kondisinya juga belum memungkinkan untuk diminta keterangan, karena baru selesai melahirkan,” kata Iptu M Romi.

Akibat perbuatannya, tersangka diancam melanggar pasal 76 D Jo Pasal 81 Undang-Undang (UU) RI No. 35 Tahun 2014 tentang perubahan UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

*** KPAD: Korban Harus Diselamatkan

Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Musi Rawas (Mura), Ngimadudin menjelaskan pihaknya telah turun tangan, untuk menyelamatkan korban persetubuhan dengan tersangka ayah kandung.

“Korban harus diselamatkan, demi masa depannya,” kata Ngimadudin, kemarin.

Menurutnya, hal-hal yang berkaitan dengan penyembuhan psikologis anak, KPAD Musi Rawas akan berkoordinasi dengan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A).

Perkembangan korban harus terus diawasi, maka perlu dilakukan tindakan yang konkret agar yang bersangkutan merasa diperhatikan. Pasalnya, beban yang harus ditanggung korban terlalu berat, maka dibutuhkan pendampingan yang intens baik oleh KPAD maupun P2TP2A.

Mengenai pelaku, Ngimadudin meminta agar diproses sesuai dengan aturan yang berlaku, karena negara kita merupakan negara hukum.

“Proses hukum diserahkan sepenuhnya ke penegak hukum, dan insiden ini tidak boleh terulang lagi,” jelasnya.

Maka dari itu, dirinya mengimbau kepada seluruh masyarakat terutama wilayah Kabupaten Mura untuk mengawasi perkembangan dari psikologis anak.

Kemudian, anak-anak yang sudah beranjak dewasa hendaknya diberikan metode untuk menjaga diri sendiri dari gangguan siapapun, termasuk keluarga dekat.

Misalnya, tidak memakai pakaian yang seksi, bagi yang beragama Islam mengenakan jilbab, sementara bagi yang non muslim memakai pakaian yang bebas pantas.

Sementara itu, Camat Megang Sakti, H Heri Achmadi membenarkan bahwa tersangka dan korban adalah warganya. Kejadian ini sangat disayangkan sekali, bukannya bapak itu menyayangi anaknya tetapi membuat malu.

“Semuanya sudah diambil tindakan tegas oleh Kades dan masyarakat dan diserahkan ke Polsek Megang Sakti. Kami diharapkan diproses sesuai UU No. 35 Tahun 2015 tentang Perlindungan Anak,” kata Herry.

Menurutnya, kasus ini menjadi perhatian khusus. Pihaknya akan terus melaksanakan sosialisasi di berbagai momen kesempatan pengajian, rapat desa dan pertemuan dengan masyarakat.

“Supaya untuk terus menjaga dan melindungi anak dari kekerasan dan kejahatan seksual,” imbuhnya. (cw1/dlt/aku)

***Bunga Berada Dalam Posisi Sulit

PSIKOLOG Irwan Tony menganalisa, hubungan yang terjadi antara Bunga dan sang ayah KR, bisa disebut inses. Ia menjelaskan, inses merupakan aktivitas seksual antara anggota keluarga atau kerabat dekat.

“Ini hubungan suami istri dengan sedarah. Faktor penyebabnya banyak. Namun didominasi, keadaan terjepit, di mana anak perempuan menjadi figur perempuan utama yang mengurus keluarga dan rumah tangga sebagai pengganti ibu. Disisi lain, terjadi kesulitan seksual pada orang tua, ayah tidak mampu mengatasi dorongan seksualnya. Disamping itu kalau melihat dari kasus ini, artinya si ayah tidak mampu mencari pasangan seksual di luar rumah karena kebutuhan untuk mempertahankan facade kestabilan sifat patriachat-nya,” terang Psikolog yang kesehariannya bertugas di RS DR Sobirin ini, Jumat (5/10).

Bunga rela menjadi korban, menurut Irwan Tony, bukan berarti dia tidak bisa berontak. Namun, Irwan menerka, bisa jadi Bunga ketakutan akan terjadi perpecahan keluarga. Mengingat, Bunga harus menyelamatkan dua adiknya yang juga perempuan.

“Jadi karena Bunga selalu ada di rumah yang mengurusi rumah karena ibu sudah tidak ada lagi, sehingga sang ayah butuh nafkah batin nggak ada, yang ada anak gadisnya yang digarap,” jelas dia.

Risiko dari hubungan inces ini, terang Irwan Tony, korban akan merasa trauma.

“Trauma jelas terjadi, kalau inces-nya bukan suka sama suka. Disatu sisi korban menyayangi adik-adiknya, namun di sisi lain ia sangat tertekan dengan apa yang dilakukan sang ayah yang jelas sangat ia hormati,” jelas Irwan Tony.

Bahkan dari sisi kesehatan, karena masih satu keluarga, membuat gen yang ada hampir sama. Hal itu akan membuat gen tidak saling melengkapi. Jika ada gen yang mengandung penyakit bawaan, maka bisa jadi anak yang dilahirkan dari hubungan sedarah ini akan menyandang penyakit bawaan tadi.(lik)

News Feed