Selama Tujuh Bulan Terungkap 21 Kasus Kekerasan

Terhadap Perempuan dan Anak

LINGGAU POS ONLINE, MUARA BELITI – Kasus kekerasan terhadap perempuan setiap tahunnya terus terjadi. Bahkan, di Kabupaten Musi Rawas (Mura) dari Januari hingga Juli 2018 sedikitnya ada 21 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Dari 21 kasus tersebut, diantaranya kekerasan fisik mencapai 5 kasus, kekerasan psikis 1 kasus, kekerasan seksual sebanyak 10 kasus, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) 4 kasus, serta perdagangan perempuan dan anak (Traffiking) 1 kasus.

Penyebab kekerasan terhadap anak dan perempuan disebabkan oleh berbagai faktor. Diantaranya, faktor ekonomi, lingkungan dan kurangnya perhatian orang tua terhadap anak.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Mura, Ahmadi Zulkarnain mengatakan bahwa selama kurun waktu tujuh bulan pihaknya menerima 21 pengaduan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kasus ini tersebar dalam wilayah ‘Bumi Lan Serasan Sekentenan’.

Ahmadi sapaannya menyebutkan kasus kekerasan seksual paling tinggi, dibandingkan dengan kasus lain. Kalau untuk KDRT dan pelecehan terhadap perempuan berkurang setiap tahun, sebutnya.

“Ini menunjukkan kesadaran dan pemahaman hukum di masyarakat,” kata Ahmadi kepada Linggau Pos Sabtu (11/8).

Pihaknya berupaya melakukan pembinaan dan penyuluhan, serta meningkatkan partisipasi di masyarakat untuk memberikan rasa aman kepada anak perempuan.

“Mengatasi semua itu, kita tidak tinggal diam. Kedepannya, kita akan membentuk Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) seluruh Desa di Kabupaten Mura,” ucap Ahmadi menambahkan, tim PATBM nantinya diambil dari masyarakat TP PKK, tokoh agama, dan Karang Taruna. Tujuannya mempermudah masyarakat melapor kejadian yang ada di desa, berkaitan dengan kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Sementara itu Kapolres Mura, AKBP Bayu Dewantoro melalui Kasat Reskrim, AKP Wahyu Setyo Pranoto mengingatkan mencegah agar anak-anak tidak terlibat dalam kasus kekerasan seksual dan sebagainya, orang tua harus memberikan perhatian lebih.

Ia meneruskan soal kasus pelecehan seksual ataupun pemerkosaan, pastinya akan dilayani dan ditangani jika pihak korban melapor.

“Sebab akan dilakukan tindakan apabila melakukan laporan, karena saat melakukan tindakan harus ada bukti serta saksi,” kata Wahyu sapaannya.

Lanjut Wahyu SP, maka dari itu apabila ada korban ataupun keluarga korban yang menjadi korban pelecehan seksual, segera melapor agar bisa ditindaklanjuti.

“Pastinya mengenai hukumannya sesuai dengan kasusnya yang dialami korban yang dilakukan pelaku,” ucap Wahyu SP kembali menjelaskan, sebagai aparat penegak hukum di lingkungan kepolisian akan semaksimal mungkin menjalankan tugas. Tentunya dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) baik menerima laporan, tindakan hingga cukup bukti dan dilimpahkan.

“Namun yang paling penting bisa diselesaikan dengan keluarga, tapi proses hukum akan tetap berjalan,” tegas dia.(04)

Baca Juga
error: Maaf Di Kunci