Harga Karet Tembus Rp 19.000 Per Kg

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Alex K Eddy saat dibincangi Linggau Pos, tadi malam mengklaim justru harga karet saat ini sudah lebih tinggi dibanding 2016 lalu.

“Enam bulan pertama tahun 2016 harga karet cukup jelek pada angka 1,3 USD per Kg. Sedangkan semester pertama 2017 ini harga karet di pabrik sudah di atas 1,5 USD per Kg, sekitar Rp 19.000. Angka ini diprediksi terus meningkat di semester II 2017. Untuk awal September ini saja sudah 1,6 USD,” terang Alex.

Ia menerangkan, di tingkat petani dan pengepul memang harga tidak setinggi itu. Karena harga Rp 19 ribu per Kg ini berlaku untuk karet 100 %. Sementara di pengepul biasa karet yang beredar kualitas 50 % bahkan kurang dari itu.

“Untuk Sumsel, kualitas karet tidak kalah. Khususnya di Kota Lubuklinggau. Namun, memang masih ada petani yang curang. Mereka mencampur karet dengan tanah, jamur dan kayu. Inilah yang merusak mutu sampai di bawah 50 % tadi. Belum lagi mereka menggunakan pembeku yang tidak standar, juga merendam karet. Ini cara yang salah, dan saran saya pemerintah berkewajiban mengedukasi masyarakat,”

Gapkindo Provinsi Sumatera Selatan, Alex K Eddy

Kecurangan-kecurangan tadi, lanjut Alex, bukan malah menguntungkan petani. Justru merugikan.

Bicara kualitas karet Lubuklinggau, Alex berani jamin sudah mulai membaik. Karena petani banyak mulai gabung di kelompok tani, dan menggunakan pembeku asam semut.

Meski harga di pasaran mungkin masih rendah, Alex minta kepada petani untuk tetap optimis.

“Pesan saya begini, bisnis karet itu nggak ada matinya. Sepanjang roda mobil, sepeda dan motor masih pakai karet. Usaha karet tetap berkibar. Jadi jangan pesimis. Tingkatkan kualitas saja,” pintanya.

Lantas bagaimana dengan lahan karet rakyat yang kini sudah jadi sawit?

Alex mengaku prihatin akan itu.

“Iya ini yang bikin kami sedih, karena usaha karet ini ada siklusnya. Kadang mahal, kadang anjlok. Inilah yang kerap membuat petani putus asa menebang pohon karetnya. Lalu membuka lahan sawit. Tapi sewaktu-waktu harga karet melejit tinggi. Kalau petani mau menanam lagi, harus menunggu lima tahun baru panen,” terangnya.

Oleh karena itu, Alex minta kepada pemerintah untuk mengedukasi masyarakat, terutama petani karet.

“Kalau ada karet yang sudah tua pohonnya ya tebang, lalu direboisasi dengan benih yang lebih berkualitas. Jadi dalam satu hektare lahan, bisa menghasilkan karet lebih banyak dibanding sebelumnya. Pemilihan bibit ini juga penting untuk diedukasi,” sarannya.(05)

Baca Juga
error: Maaf Di Kunci