Dita Biarkan Kedua Anaknya Gendong Bom

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kota Lubuklinggau, H Zainuri Matan mengimbau umat muslim di Kota Lubuklinggau jangan terprovokasi aksi pengeboman di Surabaya. Ia juga meminta berbagai pihak untuk tidak mengaitkan masalah ini dengan SARA.

“Jangan langsung menghakimi ini masalah SARA, ini tahun politik, jangan mudah terprovokasi,” pesan Zainuri Matan.

Ditambahkan Zainuri Matan, pihak kepolisian harus mengusut tuntas masalah ini sehingga tidak menimbulkan opini di masyarakat.

“Ingat Islam tidak pernah membenarkan aksi seperti ini, usut tuntas biar tidak simpang siur. Tapi pihak kepolisian juga harus transparan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kapolri Tito Karnavian mengungkapkan bahwa Polri saat ini telah berhasil mengidentifikasi para pelaku bom gereja di Surabaya. Para pelaku bom bunuh diri ini diduga kuat merupakan satu keluarga Teroris yang baru saja kembali dari Suriah. Kepala Keluarga Sakinah Laknatullah itu bernama Dita Supriyanto, ia Ketua Jemaah Ansyarut Daulah Jawa Timur. Mereka baru saja pulang dari Suriah, belajar strategi teror. Masih ada 500-an orang lagi yang masih berkeliaran.

Mereka ke Suriah bergabung dengan ISIS dan kembali ke Indonesia. Mereka di ISIS belajar strategi teror, kemiliteran dan membuat bom. Ketika kembali ke Indonesia, UU Teroris Indonesia tidak bisa menghukum tindakan tersebut.

“Revisi UU jangan terlalu lama, sudah 1 tahun. Kita tahu sel-sel mereka tapi kita tidak bisa. UU No.15 tahun 2003. Kita akan bisa bertindak kalau mereka melakukan aksi,” ujar Tito.

Kronologi pengeboman itu, sebelum melakukan aksinya, Dita Supriyanto terlebih dahulu menurunkan istri, Puji Kuswati serta dua putrinya Fadilah Sari berusia 12 tahun, dan Pamela Riskika yang berusia 9 tahun di GKI Diponegoro.

Setelah itulah baru Dita dengan ugal-ugalan mengendarai mobil Avanza miliknya yang telah dipenuhi bom rakitan dan meledakkan diri persis di depan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Arjuno sekitar pukul 07.00 WIB.

Ledakan bom mobil di lokasi Gereja GPPS ini menewaskan 8 orang dengan rincian 4 orang meninggal dunia di RS dan 4 orang meninggal dunia di TKP, termasuk pelaku yang tewas di dalam kendaraan Avanza. Selain itu, 2 orang mengalami luka-luka. Di TKP Tim Jihandak menemukan 2 bom aktif, dan telah diamankan.

Sementara itu, setelah diturunkan dari mobil, Puji Kuswanti berjalan kaki ditemani kedua putrinya menuju ke areal gereja GKI Diponegoro.

Inilah yang disebut-sebut oleh beberapa saksi sebagai perempuan bercadar yang memaksa masuk kawasan gereja. Aksi Puji ini sempat dicegah oleh seorang satpam bernama Yesaya.

Karena Yesaya menghalanginya masuk. Entah karena panik, Puji kemudian berusaha memeluk Yesaya dan meledakkan dirinya saat itu juga. Tak berapa lama, bom yang terpasang di dalam tas ransel di kedua putrinya juga ikut meledak.

Ledakan di GKI Jalan Diponegoro ini, terjadi pukul 07.15 WIB, dengan korban 3 orang, salah satunya adalah terduga pelaku meninggal dunia. 1 Orang kritis dengan luka berat, yaitu satpam bernama Yesaya, dan 4 orang menderita luka-luka. Dari TKP sebuah bom aktif berhasil diledakkan oleh tim penjinak bom.

Adapun serangan bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela, pelakunya diduga anak pertama Dita dan Puji Kuswati yakni Yusuf usia 18 tahun, dan Alif, usia 16 tahun. Keduanya merupakan anak laki-laki dari pasangan Dita dan Puji.

Yusuf dan Ali inilah yang aksinya sempat terekam kamera pengawas CCTV. Sembari berboncengan, keduanya mengendarai motor dengan kecepatan tinggi sambil memangku bom, kemudian masuk ke halaman gereja.

Mungkin panik akibat dihadang oleh seorang relawan gereja bernama Bayu, kedua bersaudara ini akhirnya meledakkan diri di depan pintu masuk gereja.

Ledakan Gereja SMTB terjadi pada pukul 06.30 WIB. Jumlah korban 15 orang luka-luka, termasuk 2 anggota Polri, dan 6 orang meninggal dunia, 3 orang termasuk 2 pelaku meninggal di TKP, 3 korban lainnya meninggal di RS.

Motif balas dendam diduga melatarbelakangi serangan bunuh diri di tiga gereja ini, sebagai pembalasan atas ditangkapnya pimpinan mereka, Oman Abdurrahman, dan juga untuk membalas kekalahan ISIS di Timur Tengah.

Korban tewas akibat bom gereja surabaya saat ini mencapai 13 orang, 48 luka luka.(Net/07)

Baca Juga
error: Maaf Di Kunci