Dinkes Abaikan Imbauan MUI

Vaksin MR Tetap Lanjut

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Dinas Kesehatan (Dinkes) abaikan imbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Buktinya program imunisasi Measles dan Rubella (MR) tetap dilanjutkan padahal Ketua MUI Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Prof Dr Aflatun Muchtar, MA mengimbau umat muslim menunda divaksin MR.

Kepala Dinkes Muratara, dr Marhendra menerangkan, pemberian vaksin MR terhadap anak-anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun tetap berlanjut.

“Tetap lanjut. Dan alhamdulillah tidak ada kendala. Target kami 56.079 anak Muratara divaksin. Kalau ada orang tua yang menolak anaknya divaksin itu biasa. Tapi tetap kami catat. Dan tidak kami abaikan begitu saja,” terang dr Marhendra, Sabtu (11/8).

Hal sama juga dikatakan Kepala Dinkes Kota Lubuklinggau, Idris melalui melalui Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Kota Lubuklinggau, dr Jeannita.

Menurutnya, program vaksinasi ini bertujuan untuk menghapuskan penyakit Campak dan Rubella di Indonesia pada tahun 2020. Serta untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) di nomor 3, yaitu tentang kesehatan universal.

Pemberian vaksin dibutuhkan oleh setiap anak yang berhak untuk hidup sehat dan bertumbuh kembang secara layak. Hidup sehat adalah hak setiap anak, sebagaimana ditegaskan di dalam Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang (UU) No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yaitu hak anak untuk hidup dan hak anak atas kesehatan pada Pasal 60.

Ia memastikan, imunisasi MR diberikan untuk melindungi anak Indonesia dari penyakit kelainan bawaan seperti gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, kelainan jantung, dan retardasi mental yang disebabkan adanya infeksi rubella pada saat kehamilan. Virus Rubella menjadi ancaman serius terutama jika penularan terjadi pada masa awal kehamilan karena dapat mengakibatkan cacat bawaan saat lahir pada otak, jantung, mata dan telinga. Di Kota Lubuklinggau, 68.000 anak ditarget mendapat vaksin MR ini.

Dr Jeannita mengingatkan, anak yang sehat adalah prasyarat mutlak bagi tumbuhnya generasi yang cerdas, inovatif, dan bahagia sehingga mampu bersaing pada era persaingan global. Oleh karena pemberian vaksin menjadi hak setiap anak, maka orang tua dan masyarakat wajib memberikan dukungannya agar tujuan pemerintah memberikan pelayanan kesehatan secara paripurna bagi anak-anak, dapat terpenuhi.

Sekedar mengingatkan berita sebelumnya, Selasa (7/8) Ketua MUI Sumsel, Prof. Dr. H Aflatun Muhtar, mengatakan MUI pusat belum menerima komposisi vaksin MR, dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Sehingga belum bisa melakukan uji laboratorium Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Makanan (LP POM) MUI.

Sebelum vaksin MR di-launching pada 2017 MUI sudah meminta sampelnya ke Kemenkes RI. Namun, hingga Agustus 2018 sampel tersebut belum diserahkan ke MUI.

Sehingga, 3 Agustus 2018 lalu dilakukan pertemuan antara Kemenkes RI dengan MUI dalam pertemuan tersebut disepakati untuk umat muslim vaksinasi Rubella harus diundur mengingat kehalalan vaksin tersebut belum teruji.

Ditambahkan Aflatun Muhtar, vaksinasi bagi umat muslim ditunda sampai ada kejelasan kehalalan vaksin tersebut.

“Bagi umat muslim yang terlanjur divaksin, Allah SWT mengampuni bagi umatnya yang tidak tahu. Sekarang sudah tahu kalau kehalalannya belum teruji, jadi jangan vaksin dulu,” ungkap Aflatun Muhtar.

Atas keputusan ini, MUI Provinsi Sumsel sudah menyurati Dinkes Sumsel, dan Dinkes kabupaten/kota se-Sumsel.

Ketua MUI Kota Lubuklinggau, H Abdullah Makcik mengatakan keputusan ini perlu dilakukan sosialisasi ke pihak-pihak terkait seperti Dinkes, dan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Lubuklinggau. Vaksin rubella saat ini masih dikaji tim MUI pusat.

Menurut pria yang juga menjabat Sekda Muratara, jika dalam vaksin Rubella ada kandungan yang tidak halal maka Pemerintah segera diminta untuk mencari vaksin alternatif.

“MUI sifatnya rekomendasi, sama dengan halnya rokok. Kami MUI sudah mengeluarkan rekomendasi bahwa rokok itu haram tapi masih saja dilakukan,” tegas Abdullah Makcik. (02)

Baca Juga
error: Maaf Di Kunci